Logo
images

Ketua Umum Pengurus Pusat PGLII periode 2015-2019, Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th saat berkhotbah

Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th: Pemberitaan Injil Harus Dilakukan Dengan Cara Yang Terhormat

PELANGIINDONESIA.ID, Jakarta - Mensyukuri perjalanan 48 tahun berdirinya, hari ini, tanggal 17 Juli 2019, Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dengan tema, "Berdiri Teguh Di Dalam Kuasa Injil" (Kolose 1:23), menggelar Ibadah Syukur di Graha Gepembri, Jl. Raya Boulevard Barat XB 4 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

Dalam sejarah singkat yang dituangkan dalam buku acara Ibadah Syukur, PGLII berdiri ketika dirumuskan mukadimah lahirnya Persekutuan Injili Indonesia (PII), pada tanggal 17 Juli 1971 di Batu, Malang - Jawa Timur. Tokoh-tokoh yang terlibat secara intens dalam pergumulan proses lahirnya PGLII yang awalnya bernama PII adalah; Pdt. DR. P. Octavianus, Pdt. DR. Ais M. O. Pormes, Pdt. G. Neigenfrad, Pdt. W. Hekmann, Brigjen (Purn) N. Huwae, Philip Leo, S. O. Bessie, Pdt. DR. HL Senduk, Ev. S. Damaris, Pdt. Ernest Sukirman dan Pdt. Andreas Setiawan.

Ketua Umum Pengurus Pusat PGLII periode 2015-2019, Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th memberi keterangan pers kepada awak media selesai Ibadah Syukur HUT PGLII Ke-48

Mengambil nats pokok sesuai tema di kitab Kolose 1:23., dalam khotbahnya, Ketua Umum Pengurus Pusat PGLII periode 2015-2019, Pdt. DR. Ronny Mandang, M.Th, menegaskan soal komitmen orang percaya untuk selalu bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak tergoncang, serta jangan mau digeser dari Injil.

Pada bagian lain, Pdt. Ronny Mandang mengingatkan warga gereja Injili untuk tidak menjadikan injil sedemikian lunak sehingga dengan mudah mengubah injil keselamatan itu.

“Didalam pemeriksaan saya terhadap pemahaman teologi injili, maka yang pertama saya menggaris bawahi bahwa kita harus berani bertanya apa artinya saya dan saudara memberitakan injil diladang Tuhan yang terus berubah ini. Disini kita tidak boleh kemudian menjadikan injil sedemikian lunak, tidak boleh juga mengubah injil keselamatan itu, disesuaikan dengan jaman kita, karena injil itu sendiri tidak akan pernah berubah sekalipun jaman tetap berubah,” tegasnya.

Terkait tema, Pdt. Ronny mandang mengingatkan rekomendasi PGI, PGLII, KWI, PGPI dan JDN pada tanggal 18 – 31 Mei 2018 di Brastagi tentang pekabaran Injil, dimana dalam menyiarkan Injil, harus dilakukan dengan cara terhormat.

“Dalam menyiarkan Injil, harus dilakukan dengan cara yang terhormat. Salah satu bagian penting dalam rekomendasi ini adalah, kita tidak boleh memberitakan Injil lalu melukai orang lain. Kita tidak boleh memberitakan Injil dengan cara-cara yang didasari pemahaman yang manipulatif. Pemberitaan Injil harus jujur, harus benar-benar menyapa setiap umat dengan bahasa kabar baik, dan kita setuju untuk mempertahankan  komitmen kita,” ungkapnya.

Ketum PP PGLII ini juga menyinggung soal peran gereja dalam menjaga, merawat keindahan lingkungan dan alam ciptaan Tuhan .

“Saya berharap melalui pertemuan ucapan syukur kita kali ini, seluruh gereja-gereja Injili di Indonesia dan lembaga-lembaga Injili di Indonesia, mulai membenahi diri untuk menjadi gereja dan lembaga yang ramah lingkungan,” serunya.

 “Indonesia termasuk negara nomor dua penyumbang sampah terbesar di dunia dan karena itu, kita juga harus ikut merawat bumi yang telah diciptakan di dalam keindahan dan kebaikan di mata Tuhan,” serunya lagi.

Sementara itu, Ketua Panitia HUT PGLII, Pdt. Tommy Lengkong, M.Th., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada PP PGLII, PW PGLII, kehadiran lembaga aras, FUKRI dan pimpinan sinode gereja anggota-anggota PGLII yang hadir. Secara khusus disampaikan terima kasih kepada pimpinan sinode Gepembri yang telah menyediakan tempat dan fasilitas pelaksanaan Ibadah Syukur ke-48 PGLII.

Sambutan-sambutan lain disampaikan oleh perwakilan Majelis Pertimbangan PGLII Pdt. Ronny Sigarlaki, SH (Sekretaris Majelis Pertimbangan), Wakil dari FUKRI Pdt. Gomar Gultom, M.Th., dan mewakili Direktur Jenderal Bimas Kristen, Kementerian Agama RI.

Diacara malam itu, Ketua Host Committee WEA, Pdt. DR. Anton Tarigan menyampaikan informasi singkat soal pelaksanaan World Evangelical Alliance, General Assembly 2019, di Sentul International Convention Center (SICC) Indonesia, dan akan berlangsung tanggal 7-13 November 2019. (*)



Tinggalkan Komentar